Kuliner

Soto Simpang Karya Langganan Bambang Pamungkas

PadangKini.com | Senin, 28/05/2012, 0:06 WIB

Apa soto padang fenomenal yang layak Anda cicipi? Jawabannya Soto Simpang Karya yang terletak di seberang Karya Teater dan di seberang Bank BNI.

Kenapa fenomenal? Selain soto milik Haji Harizal ini termasuk tertua di Kota Padang karena tetap eksis sejak dirintis ayahnya Rajo Ameh pada 1970-an, juga langganan para tokoh.

Sebutlah Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim yang selalu mampir ketika menjabat Bupati Padangpariaman. Juga, bintang sepakbola Indonesia Bambang Pamungkas. Setiap ke Padang Bambang selalu mampir mencicipi soto ini. Jangan heran, bacalah blog Bambang, ia menyebut Soto Simpang Karya dalam daftar kuliner kegemarannya.

"Tak hanya saat bertanding melawan Semen Padang, pokoknya kalau ke Padang Bambang Pamungkas pasti makan kemari," kata Haji Harizal tersenyum bangga menceritakan kepada PadangKini.com 22 Mei lalu.

Si "Mak Nyus" Bondan Winarno juga pernah mewartakan keenakan soto ini. "Pak Bonda shotting-nya sudah lama sekali," kata Haji Harizal.

Sepintas tak ada yang istimewa dengan warung ini. Tempatnya terbilang kecil di sudut jalan. Juga tak ada foto-foto orang terkenal yang pernah mampir, seakan mereka tak pernah datang. Namun pengunjungnya silih berganti seperti aliran air.

Sore itu, walau bukan lagi jam makan, pengunjung tetap datang dan pergi mulai dari PNS hingga perwira polisi. Di dapur tempat meracik soto yang berada di depan dua pekerja tak hentinya hilir-mudik membawa pesanan dan memasukkan bahan  soto ke mangkuk .

Terdiri dari soun, pergedel kentang, 10 potong daging goreng, lalu ditaburi kecap khusus soto, diberi sedikit cuka, dan vetsin, dituangi kuah kaldu yang panas lalu diatasnya ditaburi irisan daun seledri segar, sambal dan kerupuk merah. Semangkuk soto ini dihidangkan bersama sepiring nasi.  Sayangnya setiap soto Padang selalu pakai vetsin, padahal dengan semua rempah dan bumbunya saja sotonya sudah enak.

Saban sore, Haji Harizal berbelanja untuk bahan baku soto yang akan dijual esok hari. Seperti rahasia masakan minang yang sedap, ia meracik sendiri  bumbu-bumbunya pakai tangan, tidak membeli yang instan dan siap jadi.

"Saya pilih sendiri bumbunya, dagingnya, rempahnya, lalu bumbunya di tumbuk pakai alu, tidak dibelender atau beli bumbu halus, kalau bumbu instan itu hasilnya jadi soto juga, tapi rasanya beda dengan soto yang diracik sendiri," kata Haji Harizal.

Harizal generasi kedua mengelola bisnis ini. Perintisnya adalah ayahnya, Rajo Ameh pada 1970-an. Sehari Soto Simpang Raya rata-rata menjual 400 mangkok.  Dengan seporsi Rp15 ribu tentu omsetnya Rp6 juta sehari.

Bumbu soto ternyata banyak. Ada dua kelompok, bumbu kuning dan bumbu hitam. Bumbu kuning terdiri dari jahe, kunyit, lengkuas, bawang merah, dan bawang putih. Sedangkan bumbu hitam terdiri dari rempah-rempah seperti pala, kayu manis,cengkeh, kapulaga, pekak, dan  merica.

Karena aroma kuah soto yang tercium semakin menggoda, saya memesannya dan segera terhidang di meja. Sepiring nasi putih dan semangkuk soto berkuah bening kekuningan dengan sundulan potongan daging goreng dan pergedel kentang serta dihiasi kerupuk merah. Saya langsung menyantap soto tanpa menambah dengan kecap dan sambal yang disediakan di meja.

Ternyata rasa aslinya saja sudah lezat, aromanya harum dengan rempah-rempah. Hangat dan pas sekali disantap saat itu karena cuaca sedang dingin dan hujan. Pedasnya juga mantap, tak terlalu pedas, karena ternyata cabe merahnya tidak dicampur cabe rawit. Jadi pedasnya tidak menyengat.

Yang membedakan soto ini dengan soto padang lain adalah dagingnya lebih gurih dan irisannya tebal, tidak terlalu kering. Daging yang digunakan daging has luar, daging paha yang direbus dengan bumbu kuning, lalu digoreng. Kaldunya ini untuk kuah soto.

Ingin lebih lezat, coba tambahkan kerupuk jangek, kerupuk kulit kerbau yang ada di meja dan paru goreng. Rasa sotonya jadi makin kaya.

Terakhir untuk hidangan penutup saya menyantap segelas kecil agar-agar khas Padang alias "raga-raga", dicetak  di dalam gelas. Ini dari agar-agar kaca yang dicampur gula tebu dan santan, warnanya coklat.

 "Soto Sutan Mangkuto yang terkenal di Jakarta punya sepupu saya, tapi rasanya tetap beda dengan soto saya, walaupun sama-sama soto padang, kalau anaknya ke Padang selalu bilang, kenapa soto Pak Tuo lebih enak, padahal bumbunya sama, nah itu tergantung rahasia dapur masing-masing," kecap Harizal. (yanti)

1 Komentar Pembaca

  • #1 Palasik Kinol Rabu, 30/05/2012 21:46 WIB

    Saran untuk Pemda Kota Padang, tolong nasehatkan pengusahanya agar menyediakan Kamar Kecil yang bersih; malau kita dengan tamu dari luar selalu tutup mulut setelah buang air ikecilnya

iklan
  • ubh 2012