"MALAMANG" atau membuat "lamang" atau lemang adalah tradisi yang berkaitan dengan upacara keagamaan di Sumatera Barat. Tak hanya pengananan menyambut Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, tapi yang paling penting adalah upacara kematian dan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Lemang adalah makanan dari beras, pisang, dan tepung yang dimasak dalam buluh, sejenis bambu tipis menggunakan kayu bakar.
Berbeda dengan tradisi membuat lemang di sejumlah daerah di Sumatera, Sulawesi, bahkan Malaysia yang dikaitkan dengan hanya menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, di Sumatera Barat, kegiatan membuat lemang dipakai pada sejumlah kegiatan ritual keagamaan yang lebih beragam. Jenis lemang pun dibuat beragam sesuai keperluan tertentu.
Namun
melemang saat peringatan kematian lebih penting dari acara lain," kata Bachtiar Datuk Bagindo Basa, 78 tahun, tetua adat Suku Guci di Sungai Durian, Padangpariaman.
Tradisi melemang yang lebih beragam ini tak ditemukan di semua tempat di Sumatera Barat, tapi hanya di Padangpariaman dan sejumlah tempat lain diluar itu. Ini berkaitan erat dengan ajaran Tarekat Syattariyah yang dibawa Syech Burhanuddin, seorang ulama dari Ulakan, kampung pantai di Kabupaten Padangpariaman yang hidup sekitar tahun 1646 hingga 1704.
Konon, Syech Burhanuddin yang terkenal sebagai ulama penyebar Islam di Minangkabau, wilayah yang lebih luas dari Provinsi Sumatra Barat sekarang, mencari cara cerdik agar tidak menolak ajakan makan di rumah warga yang masih terbiasa memakan babi, karena sebagian besar masih beragama Hindu-Budha.
Agar tidak memakan makanan yang terkontaminasi babi yang haram, ia menyarankan agar pada saat acara keagamaan yang diikutinya dibuat makanan khusus yang dimasak dalam bambu. Inilah kisah yang dipercayai sebagian orang sebagai awal mulanya lemang.
Melemang dipastikan tidak ada hubungan dengan adat Minangkabau. Ini murni berkaitan dengan ajaran Syech Burhanuddin.
"Sebagai bukti, makanan lemang tidak pernah disuguhkan dalam acara adat Minangkabau, misalnya saat melantik penghulu atau datuk, acara perkawinan, atau acara adat lainnya, dalam acara adat ini biasanya yang disuguhkan nasi kunyit atau nasi ketan kuning," kata Bachtiar kepada PadangKini.com.
Ada empat jenis lemang yang biasa dibuat masyarakat di Padangpariaman. Lemang paling umum adalah lemang ketan dari beras pulut putih. Lemang lainnya adalah lemang kuning dari tepung beras dicampur kunyit dan air kelapa tua, lemang pisang, dan lemang kanji (mirip dodol).
Di Padangpariaman wajib bagi sebuah keluarga memasak lemang atau malamang saat peringatan kematian anggota keluarganya. Peringatan itu dilakukan saat acara doa malam ketiga setelah kematian, malam ketujuh, malam dua kali tujuh (dua minggu), malam ke-40, dan malam ke-100.
Jumlah lemang yang dimasak tergantung perkiraan jumlah tamu yang akan datang melayat dan lamanya acara zikir dan doa. Sebab lemang nanti akan dijadikan bingkisan untuk pelayat sebagai ucapan terima kasih telah membawakan beras dan untuk "orang siak" (alim-ulama) yang melakukan zikir.
Jika pelayat diperkirakan sedikit dan acara zikir hanya sampai tengah malam, maka lemang pulut dibuat 30 liter. Itu artinya bisa menghasilkan 60 batang lemang dari buluh berdiameter sekitar 7 cm dengan panjang sekitar 80 cm. Sebab setengah liter beras menghasilkan satu batang lemang.
Tapi jika pelayat diperkirakan lebih banyak dan berzikir dilakukan sampai subuh, maka lemang dibuat 100 liter atau menghasilkan 200 batang lemang.
"Wajib pula dibuat lemang kuning, paling tidak satu batang saja, ini diyakini semacam "panungkek" (tongkat) bagi orang mati di alam kubur, lemang kuning hanya dibuat khusus untuk acara kematian," kata Bachtiar.
Lemang lain yang biasa dibuat sebagai tambahan adalah lemang pisang. Lemang ini berasal dari pisang yang dihancurkan, dicampur dengan beras pulut dan santan pekat, diberi garam dan dimasak dalam bambu.
Para pelayat perempuan yang datang membawa beras akan diberi bingkisan 3 hingga 5 potong lemang. Pelayat khusus seperti mertua dan keluarganya yang biasa membawa beras ditambah 10 butir telur akan diberi lemang satu batang. Lemang masing-masing satu batang juga diberi kepada beberapa ulama yang ikut berzikir.
Selain acara kematian, melemang juga dilakukan untuk santapan acara berdoa menyambut bulan Ramadan di rumah warga, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tapi dewasa ini jarang dilakukan di Padangpariaman karena sudah banyak yang menggantinya dengan membuat ketupat pulut karena lebih praktis.
Melemang lain dan biasanya besar-besaran adalah saat acara peringatan kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal. Jelang peringatan dilakukan di mesjid suku atau di mesjid Nagari (Mesjid Raya), warga beramai-ramai membuat lemang sebagai tambahan makanan. Masing-masing keluarga bisa membuat 50 liter lemang pulut.
"Tapi peringatan ini tidak setiap tahun, acaranya dirundingkan dulu para pemuka, kalau ada keluarga atau suku yang belum sanggup karena umumnya faktor biaya, biasanya tidak dilaksanakan," katanya.
Di Nagari Sungai Sariak, Padangpariaman acara Maulid dengan banyak memasak lemang di mesjid Nagari atau desa terakhir pada 1984. Sedangkan di mesjid suku pada 1990.
Sekarang ninik-mamak pimpinan suku masih melakukan beberapa rapat untuk merayakan Maulid di mesjid Nagari. Namun gempa 30 September 2009 yang merusak lebih 100 ribu rumah penduduk di Padangpariaman menjadi alasan acara tambah ditunda.
Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, Nurmatias menguatkan, tradisi malamang atau melemang erat kaitannya dengan penyebaran Islam dari Tarekat Sattariyah.
"Tradisi melemang yang ada sekarang di hampir seluruh Sumatera, kemudian di beberapa tempat di Kalimantan, Sulawesi, hingga Malaysia adalah dari pengaruh Syattariah yang disebarkan dari Syech Burhanuddin Padangpariaman dan mungkin juga gurunya Syech Abdurrauf Singkil di Aceh," katanya kepada PadangKini.com.
Ia tidak bisa memastikan apakah lemang bermula dari Padangpariaman atau Aceh. Namun penyebaran tradisi lemang sangat terkait dengan pengaruh orang-orang Minangkabau.
Termasuk di beberapa daerah di Malaysia, misalnya Negeri Sembilan, yang ikut diteruka (dibuka) oleh orang-orang dari Minangkabau sebelum masuknya bangsa Eropa. (Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com)
PERINGATAN: Tulisan ini milik PadangKini.com (hak cipta pada PadangKini.com/ PT Sarana Media Online) Harap tidak mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial Anda secara utuh. Kopian diperbolehkan untuk judul dan paragraf pertama lalu di-link-kan ke halaman ini. (REDAKSI)
wallahu 'alam dr mn asal datangy tradisi malamang, apakah dari islam/ adat minangkabau sendiri. kalau di kampung saya gadut - tilatang kamang - agam, tradisi malamang / membuat lamang masih ada sampai sekarang, biasa dilakukan pada acara pernikahan, 7 hari, 40 hari dan 1000 hari dari kematian seseorang, idul adha. kalau di idul fitri ada juga dilakukan tp jarang dan kebanyakan hanya orang2 tertentu / mempunyai uang lebih. mdh2an komen saya jadi masukkan bg penulis, dan pembaca. salam kenal dr ambo irvo oktaviandi kari sampono suku pisang. (REDAKSI: Terima kasih masukannya, Sanak Irvo, kita harap studi sejarah terbaru bisa menjawabnya. Masukan seperti ini semakin banyak juga semakin menambah khazanah sejarah kita. Salam).