PADANG--Tak banyak perancang mode lokal Sumatera Barat yang bertekad 'menaklukan' pasar nasional. Salah satunya adalah Ade Listiani.
Perancang mode di Jalan Beringin, Lolong, Kota Padang ini, sudah lama ingin karya-karyanya dipakai konsumen di kota-kota besar selain Padang. Untuk itulah ia akan memamerkan pruduknya di Pasaraya Grande, Jakarta dan ikut Jakarta Fashion & Food Fe
stival (JFFF) 19 Mei nanti.
Spesialisasi dan profesionalisme adalah dua kata kunci keberhasilan Ade Listiani dalam membidik pangsa pasar desain kebaya dan baju muslim di Sumatera Barat.
Ade memulai bisnis dalam dunia fashion tidak secara kebetulan. Dunia fashion telah menarik hatinya sejak kecil, sehingga Ade remaja telah membulatkan tekadnya untuk betul-betul mengeluti dunia busana.
Ia memutuskan menyambung sekolahnya ke SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga) pada 1985 di Kota Jambi, ketika ayahnya yang bekerja di Bank Nasional Indonesia (BNI) bertugas di sana.
Tamat SMKK Ade menambahkan pengetahuan dengan mengikuti kursus mode selama dua tahun di Jakarta. Setelah itu membuka bisnis busana di Jambi melalui pesanan pribadi.
Bisnis rumahan ini dijalankan perempuan berdarah Yogyakarta ini dengan berliku. Berbekal keluwesan bergaul, pada 2001 ia ditawari Gubernur Jambi untuk mendesain dan mempopulerkan batik Jambi dengan aneka rancangan busana dan perlengkapan rumah tangga.
Mendapat tantangan yang cukup mengiurkan itu, Ade menyambutnya dengan bekerja keras. Segala kemampuan kreasi dan inovasinya ia curahkan. Mulai dari taplak meja, tempat tisu, tutup poci, dan aneka pernik rumah tangga didesain dengan bahan kain batik Jambi.
Selain itu Ade juga memfokuskan diri dalam mendesain kebaya yang memakai payet yang dipadu padankan dengan batik Jambi.
Pada 2003 Ade ikut pindah bersama suaminya yang ditugaskan ke Padang. Ia kembali memulai bisnisnya dari nol. Mulai memperkenalkan produknya sampai mencari relasi baru.
Keramahan dan keserdehanaannya membuatnya dengan cepat memasuki pergaulan di Kota Padang, terutama di kalangan keluarga pejabat. Jasa profesional Ade untuk melayani desain baju pernikahan mulai dipakai dalam pesta perhelatan keluarga pejabat.
Desain yang memuaskan pelanggan, membuat namanya dengan cepat dikenal. Tak hanya di Kota Padang, tapi ia kemudian juga melayani pesta pernikahan putra atau putri pejabat kabupaten dan kota.
Tentu saja, perempuan bersuamikan orang Pariaman ini juga merancang pakaian adat pengantin minang.
Jasanya menangani busana pengantin juga pernah dipakai ketika pernikahan putra Ketua DPRD Sumatera Barat, Leonardy Harmaini. Kini ia juga sedang merancang baju pengantin untuk pernikahan putri Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi. Tak hanya pakaian, ia juga merancang desain interior pesta pernikahannya.
Selain berkutat mendesain pakaian pengantin, Ade juga merancang kebaya modifikasi bertabur payet yang dipadu padan dengan songket silungkang. Ide pemakaian songket Silungkang dari Vita Gamawan Fauzi ini, rencananya akan ditampilkan dalam acara Jakarta Fashion & Food Festival di Mall Kelapa Gading, Jakarta pada 19 Mei 2008.
Ade adalah salah satu anggota APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Indonesia) Sumbar yang mendapat kesempatan ikut dalam acara nasional tersebut.
Baju-baju yang akan ditampilkanya adalah kebaya modifikasi yang ditaburi payet dan batu swaskorski dengan nuansa hitam dan gold, yang dipadu dengan Songket Silungkang. Ade juga menampilkan desain baju muslim yang memiliki kekhasan di patchworknya. (bening)