BERITA » Patron

Semangat Menjembatani Sumbar-Australia

PadangKini.com | Kamis, 04/09/2008, 15:03 WIB

GUSRIZAL adalah satu dari sedikit orang Indonesia yang mencurahkan perhatian untuk memajukan bahasa Indonesia di Australia. Selama lebih delapan tahun ia hampir setiap tahun ke Australia, masuk ke ruang-ruang kelas pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah dan universitas, mengajarkan bahasa, dan memperkenalkan budaya Indonesia di sana. 

Tak hanya itu, ia juga menulis dan menerbitkan sebuah buku pelajaran bahasa Indonesia untuk para pelajar di Australia dengan modal sendiri. Buku berjudul Let's Bahasa Indonesia with a New Method yang diterbitkan di Jakarta, edisi pertama 1999, edisi kedua Agustus 2000, dan  edisi ketiga (revisi) Februari 2007 itu, menjadi salah satu buku pegangan belajar bahasa Indonesia di Australia. 

"Sepanjang pengetahuan saya, ini buku pelajaran bahasa Indonesia pertama yang ditulis orang Indonesia di Australia, umumnya di Australia buku pelajaran terutama untuk siswa sekolah menengah ditulis oleh orang Australia sendiri," ujar Gusrizal di kota kediamannya, Bukittinggi. 

Gusrizal kelahiran Bukittinggi 6 Agustus 1962 adalah pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing sejak 1988 hingga sekarang. Lulusan sarjana strata 1 FKIP Bahasa Inggris, Universitas Nasional Jakarta ini, selama bertahun-tahun mengajar orang asing untuk belajar bahasa Indonesia di Indocourse (Indonesia Langage Course) di Jakarta dan Bukittinggi. 

Awal tahun 2000 ia tertarik untuk mengembangkan bahasa Indonesia di Australia setelah membaca di surat kabar pernyataan Dr. Ismet Fanany bahwa minat orang Australia untuk belajar bahasa Indonesia tinggi, namun pengajar dan buku ajar minim. Fanany adalah dosen Bahasa Indonesia di Department School of Social and International Studies, Deakin University. 

"Sebelumnya waktu saya habis tercurah untuk mengajar, setelah terjadi perubahan politik 1997, saya menjadikan itu momentum untuk bergerak, saya memulai dengan menulis buku pelajaran," katanya. 

Kenyataan di Australia

Buku edisi pertamanya diterbitkan pada 1999 dengan biaya sendiri. Buku yang dicetak 3.000 eksemplar itu langsung direspon positif oleh Atase Pendidikan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Buku ini kemudian diperbaiki dengan sampul bergambar wayang setahun kemudian, lalu dicetak ulang. 

Buku itulah salah satu alasan ia terpilih menjadi pembicara dalam acara International Conference for Teaching Bahasa Indonesia (KIPBIPA IV) di Bali pada 2001. Dalam acara itu hadir guru bahasa Indonesia dari Tasmanian, Australia. Guru tersebut tertarik dengan konsep yang disampaikan Gusrizal untuk memajukan pengajaran bahasa Indonesia di Australia. 

"Saya ditawari datang mengajar di sejumlah sekolah dan universitas di Tasmanian, tapi biaya ditanggung bersama, saya menanggung sendiri biaya pergi dan pulang, tidak digaji, tapi selama di sana selama satu tengah bulan pada 2002 Pemerintah Negara Bagian Tasmanian menyediakan akomodasi, konsumsi, dan transportasi serta mengatur jadwal ke sekolah-sekolah, betul-betul tidak berorientasi profit," ujarnya. 

Di sekolah-sekolah ia menemukan kenyataan yang menyedihkan. Minat pelajar Australia belajar bahasa Indonesia sangat tinggi sebelum krisis moneter 1997. Melebihi 4 bahasa lainnya yang menjadi bahasa asing Asia dan Eropa pilihan di sekolah-sekolah, seperti Spanyol, Perancis, Cina, dan Jepang. Bahkan bahasa Melayu masuk ke dalam bahasa Indonesia. Namun selama ini hampir tidak ada perhatian dari pemerintah Indonesia untuk membantu program ini. 

"Di sebuah lokal pelajaran bahasa Indonesia di sebuah sekolah, saya menemukan di dinding yang terpajang adalah gambar Presiden Soekarno, tidak ada peta atau bendera Indonesia, dan asesoris Indonesia lain, padahal berapalah biaya sepasang foto kepala Negara, lambang Negara, peta, dan bendera yang sebenarnya bisa dibantu pemerintah kita," ujarnya. 

Bantuan terhadap kualitas guru pengajar, menurut Gusrizal, juga nyaris tidak ada. Guru pengajar bahasa Indonesia yang notabene orang Australia sendiri mengajar dengan keterbatasan mereka. Gusrizal memperlihatkan sepucuk surat elektronik berbahasa Indonesia dari temannya seorang guru bahasa Indonesia di Australia. Ada beberapa kekeliruan penggunaan kata dan kalimat. 

"Kita mengerti apa maksud surat ini, tetapi bahasa Indonesianya masih perlu perbaikan, ini yang menulis guru yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa di sana, nah inilah sebenarnya butuh perhatian pemerintah dan orang Indonesia bagaimana caranya membantu guru seperti ini," katanya. 

Miniatur Rumah Adat Minang

Bahasa Indonesia dipelajari di seluruh sekolah-sekolah milik pemerintah di seluruh Australia. Mereka kekurangan staf pengajar, apalagi yang berkualitas. Begitu pula dengan buku pelajaran, sangat terbatas. Buku pelajaran yang ada ditulis orang Australia sendiri untuk diedarkan secara nasional. Bahannya sesuai kemampuan, latar belakang, dan keinginan mereka. 

"Kemana orang Indonesia? Atase kebudayaan kita hanya pengisi suara dan memberikan kata pengantar, inilah yang mendorong saya untuk berpartisipasi membuat bahan ajar," ujarnya. 

Jumlah siswa yang belajar bahasa Indonesia dalam sepuluh terakhir mengalami penurunan dibanding tahun 1997. Alasan penurunan itu di antaranya karena diberlakukannya travel warning dan isu terorisme, terutama setelah peristiwa bom Bali yang menumbuhkan ketidaksukaan orang Australia terhadap Indonesia. 

Setelah bom Bali pada 2002 yang menewaskan 80 orang Australia, bahkan ada keluarga korban yang meminta kepada Pemerintah Australia agar menghapus pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. 

"Mereka mengatakan untuk belajar bahasa Indonesia lagi... seharusnya kita berterima kasih kepada Pemerintah Australia yang mengatakan tidak perlu menghapus pelajaran bahasa Indonesia karena alasan emosional," katanya. 

Kini meski jumlah siswa yang belajar bahasa Indonesia menurun, tapi masih termasuk banyak. Setiap sekolah ada sekitar 300 siswa ikut kelas Bahasa Indonesia dan jumlah sekolah di Negara Bagian Melbourne saja sekitar 450 sekolah. 

Gusrizal mengaku memberikan sentuhan budaya Indonesia setiap mengajar di kelas. Ia membawa uang RI, peta Indonesia, miniatur rumah adat Minangkabau, dan mengajak pelajar menyanyikan lagu pendek Indonesia seperti 'Topi Saya Bundar' dan 'Burung Kakak Tua'. Lagu-lagu pendek itu untuk menggugah pelajar untuk mengenal Indonesia. 

Buku dengan Cerita Sumatera Barat

Buku edisi ketiga Gusrizal diterbitkan oleh Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta pada Juni 2007. Buku 237 halaman ini diberi pengantar oleh Senior Indonesian Lecture, Dr. JS Badudu, Counsellor (Education, Science, and Training) Australian Embassy, Dr. Shannon Smith, dan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi. 

"Buku ini dicetak 5.000 eksemplar dengan harga 10 dolar Australia, tapi sudah terjual 2.000 kopi setelah dipromosikan di Departemen Luar Negeri," ujar suami Eva Chandra dan ayah tiga anak ini. "Meski untung, membuat buku bukanlah bisnis, tapi hanya proyek idealis," tambahnya. 

Ia bersyukur Direkrotat Jenderal Informasi dan Publikasi Departemen Luar Negeri membantu pengiriman 200 eksemplar bukunya ke Australia menggunakan diplomatik bag. Ini meringankan biaya angkut karena satu eksemplar buku ke Melbourne dari Jakarta biayanya Rp125 ribu. 

Masuknya Gubernur Sumatera Barat memberi pengantar buku ini adalah upaya Gusrizal untuk memasukkan isi lokal daerah Sumatera Barat ke dalam buku tersebut. Ia memasukkan sejumlah cerita dari Sumatera Barat seperti cerita rakyat Malin Kundang, sejarah Minangkabau (daerah budaya etnis mayoritas di Sumatera Barat), dan berita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono senang berkunjung ke Kota Bukittinggi. 

Masuknya isi lokal Sumatera Barat, kata Gusrizal, memang disengaja untuk mempromosikan daerah tersebut ke Australia. 

"Menurut saya kita tidak perlu lagi mempromosikan Bali atau Jawa ke Australia, saatnya sekarang mempromosikan Sumatera dan kebetulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sangat membantu, jadi saya masukkan content Sumatera Barat," katanya. 

Melalui pendidikan, kata Gusrizal, daerah tersebut bisa mempromosikan budaya dan pariwisatanya ke pelajar-pelajar di Australia. Secara tidak langsung program ini bisa membantu mempromosikan Indonesia secara keseluruhan. 

Apalagi, Pemerintah Australia menganggarkan budget 2008-2009 sebesar 662 dolar Australia untuk perjalanan pelajar ke negara yang bahasanya mereka pelajari setiap akhir tahun. Siswa yang belajar bahasa Perancis pergi ke Perancis. Tapi karena adanya travel warning, siswa yang belajar bahasa Indonesia terpaksa pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia. Alasannya karena mendekati bahasa Indonesia. 

"Padahal Malaysia adalah Malaysia, bukan Indonesia, akhirnya para pelajar yang belajar bahasa Indonesia lebih mengenal gedung Petronas di Kuala Lumpur, Bukan Taman Mini Indonesia Indah atau Monas, kita berharap dalam waktu dekat travel warning dicabut sehingga mereka bisa berkunjung ke Indonesia," katanya. 

Jika para pelajar sudah diperbolehkan berkunjung ke Indonesia, misalnya ke Sumatera Barat, kata Gusrizal, pariwisata dan perekonomian Indonesia bisa naik, karena mereka akan membelanjakan uang di sini. 

Kini Gusrizal yang tinggal di Bukittinggi fokus untuk menjembatani Sumatera Barat dengan Australia di bidang pertukaran pelajar dan guru ini. Ia mendirikan Element for Indonesia (Education, Culture, Research, and Development), sebuah NGO, yang berkantor di Bukittinggi. 

Atas gagasannya, Juli lalu 18 guru SMA pilihan di Sumatera Barat dikirim ke Victoria, Australia selama tiga minggu untuk melihat sistem pendidikan di sana. Tahun depan, menurutnya, sudah ada rencana 30 guru SMA dari Australia akan berkunjung ke Bukittinggi. 

"Saya akan terus berupaya untuk terciptanya kerjasama di bidang pendidikan dan budaya antara Australia dengan Indonesia, khususnya Sumatera Barat, inilah cara saya untuk membantu mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia," katanya.(Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com)

2 Komentar Pembaca

  • 1 irvo oktaviandi Perum griya batu aji asri blok.7 kel. sei lan Selasa, 15/11/2011 17:07 WIB

    salut untuk pak gusrizal

  • 2 PUTRA LINTAU PEKANBARU, RIAU Senin, 25/01/2010 11:41 WIB

    SALAM HANGAT, saya orang minang yang ada di perantauan ne sangat bangga melihat semangat perjuangan bapak GUSRISAL terhadap sumbar dan masyarakat minang, pak gusrisal mempunyai jiwa kepemimpinan sebagai anak minang, tidak sama dengan orang minang yg sukses di rantau dan melupakan begitu saja masyarakat minang di sekelilingnya , pesan saya muda-mudahan orang minang mempunyai jiwa seperti bpk

iklan
  • ubh 2012