SAWAHLUNTO--Proses belajar mengajar di SMP Negeri 8 Lumindai, Sawahlunto terganggu akibat 3 ruangan, dua di antaranya digunakan untuk belajar, rusak berat setelah dihantam dinding beton pembatas tebing di samping sekolah yang ambruk.
Wakil Kepala SMPN 8 Lumindai Yusnaldi mengatakan, peristiwa itu terjadi minggu lalu, 29 Januari malam setelah hujan lembat mengguyur Kota Sawahlunto.
"Sejak itu kami terpaksa menjadikan jam pelajaran dua shift, pagi dan siang, karena ruang belajar tidak cukup, sebab yang rusak satu ruang belajar, satu lagi ruang perpustakaan yang juga digunakan untuk belajar, serta ruang media dan mushala," ujarnya di sekolah yang terletak di Desa Lumindai itu, Kamis (4/2/2010).
Ketiga ruangan dan mushala rusak berat, sehingga tidak bisa dipakai lagi. Kejadian itu membuat operasional sekolah terganggu, karena selama ini ruang belajar SMPN 8 Lumindai juga sudah kurang.
Kepala Bagian Pembangunan Pemko Sawahlunto Aholongan berjanji akan segera membangun tembok pembatas dinding tebing yang ambruk. Selain mengamankan lokasi sekolah, juga mencegah agar rubuhan dinding tidak bertambah dan bisa mengancam bangunan lain.
Ia mengatakan sudah mengajukan dana Rp200 juta dari bencana alam untuk kembali membangun tembok penahan bukit yang longsor sepanjang 32 meter dan tinggi 3,75 kepada Wali Kota. Namun ia tidak menyebut bantuan pembangunan sekolah.
Sekretaris Komite SMPN 8 Lumindai Syafri Uyun sangat berharap kepada Pemko Sawahlunto mencarikan solusi perbaikan ruangan yang rusak agar proses belajar mengajar kembali normal.
"Kita tidak ingin proses belajar teranggu, apalagi siswa Kelas 9 sedang mempersiapkan diri menghadapi UN," katanya. (arfa)