BERITA » Lingkungan

Greenpeace Anugerahi Obama Piala CO2

PadangKini.com | Sabtu, 23/01/2010, 12:34 WIB

PADANG--NGO lingkungan dunia, Greenpeace, menganugerahi Presiden AS Barrack Obama dan dua kepala negara lainnya Piala Karbon Dioksida (CO2).

Dua kepala negara lainnya adalah Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd.

"Medali ‘aib' itu diberikan sebagai penanda kegagalan mereka dalam negosiasi iklim di Kopenhagen oleh beberapa negara yang dipimpin Amerika Serikat," kata Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara melalui siaran pers yang disampaikan kepada PadangKini.com, Sabtu (23/1/2010).

Persembahan piala CO2 diberikan lebih 75 aktivis Greenpeace dari  Thailand, Indonesia dan Filipina yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangkok, Jumat (22/1/2010).


Dalam perdebatan alot di malam terakhir konferensi iklim, pemerintah Amerika Serikat menyetujui sesuatu yang disebut Copenhagen Accord (Kesepakatan Kopenhagen) yang sampai saat ini masih menjadi deklarasi politik, belum diadopsi menjadi hasil formal konferensi Kopenhagen.

"Copenhagen Accord belum menjadi kesepakatan mengikat bagi jutaan orang seperti yang diharapkan semuanya di pertemuan Kopenhagen dan harus dilihat sebagai deklarasi politik yang lemah, di saat negara-negara mengetahui bahwa mereka harus menjaga kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius," ujar Von Hernandez.

Accord itu, katanya, merugikan masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim.

Accord itu menyebutkan tujuan "menghindari kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius". Meski demikian, sebuah catatan rahasia dari Sekretariat Konvensi Iklim PBB memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diambil negara-negara itu akan menyebabkan kenaikan temperatur hingga tiga derajat celsius, melebihi batas aman seperti yang diindikasikan oleh semua penelitian.

Untuk menghindari bencana perubahan iklim, Greenpeace mendesak negara industri maju untuk menurunkan emisi hingga 40 persen dari level 1990 pada 2020 dan negara-negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka hingga 30 persen.

"Greenpeace mendesak semua negara untuk meneruskan negosiasi menuju kesepakatan yang ambisius, adil dan mengikat di pertemuan Meksiko akhir 2010 ini, pekerjaan harus dimulai untuk memenuhi ini atau Meksiko beresiko mengulangi kegagalan Kopenhagen" ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. (s)


DESAKAN GREENPEACE:

(1) Pemerintahan menyepakati dilanjutkannya Protokol Kyoto pada periode kedua dan mengadopsi protokol kedua berisi penurunan emisi oleh negara maju dan aksi mitigasi oleh negara berkembang oleh COP 16, di pertemuan Meksiko 29 November 2010 mendatang.

(2)  Negara maju sebagai sebuah kelompok, mengajukan komitmen mengurangi emisi paling tidak 40 persen di bawah level 1990 pada 2020, paling tidak sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan domestik.

(3)  Negara maju untuk menyediakan dana mencukupi, paling tidak 140 miliar US Dollar per tahun untuk menyokong program energi bersih dan mitigasi lain, perlindungan hutan serta adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.

(4)  Negara berkembang untuk menyusun aksi mitigasi dalam rangka mencapai 15-30 persen deviasi dari kegiatan sehari-hari penyebab emisi pada 2020. Dari semua pengurangan emisi ini, negara berkembang akan mengimplementasikan harga nol dan negatif yang bisa dicapai tanpa bantuan eksternal, sementara negara maju membantu di bidang lain.

(5)  Semua negara menyediakan mekanisme pendanaan untuk menghentikan laju deforestasi dan emisi lain di negara berkembang pada 2020, dan mencapai nol deforestasi pada 2015 di wilayah yang menjadi prioritas seperti Amazon, Kongo, Hutan Tropis Indonesia dan Papua New Guinea. Pengurangan emisi ini harus menjadi penambahan dari pengurangan emisi yang sudah termasuk dalam paragraf dua. *

Belum ada Komentar

iklan